“Dari uji coba ini, kami akan menggali informasi dan input untuk penyempurnaan penggunaan aplikasi dari calon pengguna dan para pihak yang terlibat dalam mekanisme skrining, edukasi, dan pendampingan calon pengantin, mengetahui sejauh mana kemudahan pengguna dalam mengakses aplikasi sekaligus kemudahan pengguna dalam mengoperasionalkan aplikasi”, sahutnya.
Pada prakteknya, ketika catin (calon pengantin) ini mengurus surat pengantar nikah di desa/kelurahan, maka petugas di desa dan kelurahan akan menyampaikan informasi mengenai aplikasi Elsimil. Aplikasi ini sejatinya nanti harus diisi dan menjadi kelengkapan administrasi untuk pendaftaran selanjutnya di KUA. Kemudian setelah itu catin terlebih dahulu melakukan pemeriksaan kesehatan jasmani di fasilitas kesehatan seperti puskesmas, sebelum melakukan pengisian kuesioner. Pada saat melakukan pemeriksaan kesehatan ini juga dilakukan pendampingan dan edukasi kepada catin agar mencapai kondisi siap nikah dan hamil. Pendampingan dilakukan nantinya oleh Tim Pendamping Keluarga yang terdiri dari Petugas Lapangan KB/Kader di Balai Penyuluhan KB, bersama bidan, ahli gizi, dan PKK. Setelah pengisian kuesioner dan direview oleh system, catin akan memperoleh laporan pada aplikasi berupa penjelasan dan rekomendasi untuk ditindaklanjuti. Jika hasilnya ideal, maka pengguna akan memperoleh sertifikat siap nikah dan hamil. Sertifikat inilah yang nantinya akan dilampirkan dan diserahkan kepada petugas KUA ketika melakukan pendaftaran pernikahan. Jika hasilnya belum sesuai, catin tetap bisa melanjutkan mendaftar pernikahan, namun catin direkomendasikan untuk memperbaiki catatan yang masih kurang dan jika ada indikasi seperti anemia, catin disarankan menunda dulu kehamilan pertamanya, sampai kondisi kesehatannya ideal untuk hamil.
Hal ini diapresiasi oleh dr. Ribka Tjiptaning, Anggota Komisi VII DPR RI yang hadir pada kegiatan tersebut. “BKKBN memilih Sukabumi untuk uji coba Elsimil merupakan pilihan tepat. Karena di Sukabumi masih banyak pernikahan di bawah umur, yang menjadi salah satu penyebab terjadinya AKI, AKB dan stunting”, jelas Ribka sembari mengapresiasi kolaborasi BKKBN dengan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) pada uji coba Elsimil tersebut. BRIN turut berkontribusi dengan membawa hasil inovasi penelitian berupa makanan tambahan bergizi untuk catin, yaitu Purula. Purula mengandung nutrisi untuk menyerap zat besi lebih cepat. Makanan tambahan yang ditabur terbuat dari daging sapi dan ekstrak rumput laut. Pada uji coba ini, BRIN memberikan bantuan Purula melalui DPPKB Kabupaten Sukabumi sejumlah 15.000 sachet.








