Menurut Diah, wayang golek ini media yang merarik, apalagi berisi sebuah lakon dan narasi. Seperti tokoh Cepot dan Dewala yang melambangkan suara orang-orang kecil, sehingga cukup representatif sebagai sebuah konsep untuk menarasikan kebangsaan dan kebudayaan.
Diah berpesan bahwa di tengah konteks kebangsaan hari ini, dimana banyak problematika termasuk juga kesulitan akibat pandemi Covid-19 ini, nilai kebangsaan dan persatuan menjadi salah satu nilai utama dan semangat untuk maju ke depan harus tetap ada di masyarakat.
Sementara dalam konteks sosialisasi empat pilar, sambungnya, budaya adalah salah satu nilai yang ada dalam trisakti dan itu perlu dikukuhkan dan dihidupkan dalam aktivitas keseharian. “Kalau bisa aktivitas di daerah atau kenegaraan itu harus selalu melibatkan unsur-unsur budaya yang ada. Jangan sepi budaya dalam kehidupan berbangsa,” pungkasnya. (*)








