“Kami sampaikan ke semua pengajar, mengajak mereka menuangkan kisah-kisah pengalaman selama mengajar, lalu dilakukan webinar penulisan antologi tapi memang tidak semua memiliki kesempatan untuk menulis, jadi hanya 25 orang yang setor tulisan,” imbuhnya.
Yane menyebut, dari 25 tulisan di buku ini semua ceritanya berbeda-beda mengingat di setiap wilayah permasalahan yang dihadapi warga berbeda-beda. Tak ketinggalan ia pun turut ambil bagian dalam buku ini, menulis awal mula dibentuknya Sekolah Ibu, tantangan serta urgensi kenapa harus ada Sekolah Ibu.
“Semua cerita di buku ini menarik, setiap penulis punya gaya penulisan berbeda-beda dan punya latar belakang cerita permasalahan yang berbeda-beda. Buku ini baru dicetak terbatas dan baru dibagikan ke kerabat saja, tapi setelah launching jika antusias masyarakat bagus untuk punya buku ini akan kami jual secara bebas,” katanya. (*)








