Fitrah manusia menurutnya adalah egois, berjuang sesuai dengan kepentingan dirinya dan itu bisa mengakibatkan chaos karenanya harus diikat, dipersatukan, diatur lewat hukum dan edukasi (pendidikan).
“Bung Karno dan Pak Harto mengikat bangsa Indonesia selama puluhan tahun dengan pemikiran kebangsaan. Tidak mudah merumuskan Pancasila, panjang perdebatannya dan selesai ketika republik ini didirikan. Indonesia itu begitu beragam, Pancasila dan UUD 1945 ada untuk mempersatukan dan sudah selesai di tahun 1945, jika ada yang ingin mengoyak, menanyakan lagi serta menafsirkan lain, itu berarti keluar dari rel perjalanan bangsa Indonesia,” ungkapnya.
Baginya, menguatkan rasa kebangsaaan tidak harus ikut penataran, tidak harus dicekoki oleh hal-hal yang sifatnya formal. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menyaksikan dokumentasi atau film-film kebangsaan yang menceritakan perjuangan para pendahulu dan pendiri bangsa, seperti Ahmad Dahlan, HOS Cokroaminoto atau tokoh lainnya.
“Film-film kebangsaan itu keren dan inspiratif, menguatkan rasa kebangsaan kita. Jadi menguatkan kebangsaan dengan Pancasila apalagi membumikannya, banyak sekali caranya, kegiatan di ruangan ini hanya salah satu di antaranya. Ketika nanti keluar dari ruangan ini silakan lakukan dan cari pengalaman-pengalaman yang membuat kalian kaya akan wawasan dan pengalaman kebangsaan. Baca, nonton film dan sebagainya,” katanya. (*)








