“Itu dasar pemikirannya, agar semua bisa dilindungi tidak hanya yang mudik saja,” imbuhnya.
Namun ia memahami di lapangan ada dua isu yang menghambat pelaksanaan vaksin booster. Pertama, kekhawatiran vaksin booster menimbulkan efek sakit seperti demam. Ia pun meminta agar kepala sekolah bisa menyampaikan kepada tenaga pendidik, sejauh ini booster aman.
“Tidak ada catatan kejadian pasca vaksin ada yang sakit serius, semua berjalan normal saja, banyak orang malah tidak ada gejala, walaupun ada gejala namun cepat pulih, ini Insya Allah aman,” tegasnya.
Kedua, ia meminta disampaikan Fatwa MUI Nomor 15 Tahun 2021 tentang vaksin booster ketika puasa tidak membatalkan puasa dan tidak akan menimbulkan gejala yang dikhawatirkan, sebaliknya kondisi menunjukkan hal yang baik. Ia pun memberikan dua opsi kepada tenaga pendidik, pertama datang ke sentra-sentra vaksin di kelurahan terdekat.
“Dan kedua jika ada permintaan khusus, Pemkot Bogor akan melakukan koordinasi dengan Dinkes untuk membuat sentra khusus dengan catatan harus ada peserta yang datang baik itu guru, tenaga pendidik dan juga siswa,” katanya.(*)








