“Spiritualnya adalah menghormati dan menaati pimpinan yang menjadi bagian dari keimanan serta keyakinan. Karena itu Insya Allah mari kita yakini, yang membuat kota langganan penghargaan harusnya adalah spiritual bukan material. Ini renungan kita semua, sejauh mana kita memahami dan meyakini bekerja adalah ibadah. Pertolongan Allah SWT akan datang melalui cara dan arah yang kita tidak duga untuk orang-orang yang bertakwa,” ungkap Bima Arya.
Untuk aspek kepemimpinan, Bima Arya menjelaskan, Kota Bogor bukan keturunan ‘kaleng-kaleng’. Sejarah kepemimpinan yang dicintai, karena mampu mensejahterakan rakyatnya dan warisan yang ditinggalkan merupakan trah yang luar biasa.
Dengan spirit yang dimiliki saat ini, seluruh lapisan di Kota Bogor diharapkan bisa meneladani atau memberikan jalan bagi pemimpin-pemimpin berikutnya.
“Semoga ini berlanjut dari masa ke masa. Dinu Kiwari Ngancik Nu Bihari Seja Ayeuna Sampeureun Jaga,” tegas Bima Arya.
Kepada semua yang hadir, Bima Arya menerangkan bahwa bulan ramadan adalah miniatur kehidupan. Jika tidak dijaga akan bubar dan buyar, kecuali bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa yang semangatnya makin berkobar jelang akhir ramadan untuk mengejar serta menggapai ridha, ampunan dan berkah.
“Mari kita doa agar terjaga semangat dan konsistensinya, tidak saja di bulan ramadan tetapi bulan-bulan berikutnya untuk terus berikhtiar semaksimal mungkin untuk melayani dan melakukan yang terbaik bagi warga Kota Bogor,” kata Bima Arya mengakhiri sambutan.








