Menurut Adit, panggilan akrabnya, para ulama maupun pondok pesantren adalah elemen terpenting bagi bangsa dalam membangun negara. Kontribusi-kontribusi pemikiran mereka tidak boleh terbentur hanya pada dinding-dinding pesantren saja, namun perlu disebarluaskan dan menjadi bagian dari apa yang harus diperjuangkan parlemen.
“Para ulama ini memiliki ilmu yang sangat dalam, peran yang begitu besar karena terjun langsung di tengah masyarakat. Menghadapi problematika ummat yang tidak pernah selesai, namun selalu sabar memberikan memberikan solusi-solusi praktis. Kami di PKS perlu menerjemahkan pemikiran-pemikiran para ulama sebagai bahan pembuatan kebijakan sehingga implementasinya memberikan kebaikan bagi masyarakat,” imbuhnya.
Ketua Majelis Syura PKS, Habib Salim Segaf al-Jufri baru-baru ini juga berziarah ke pemakaman Ma’la, sekitar 10 kilometer pusat kota Mekah. Beberapa ulama Indonesia yang dimakamkan di Jannatul Ma’la adalah Syaikh Ahmad Khatib Sambasi (wafat 1875), Syaikh Nawawi Bantani (1897), Syaikh Junaid Betawi (akhir abad 19 M), Syaikh Abdul Haq Banten (1903), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (1916), Syaikh Abdul Hamid Kudus (1916), Syaikh Mahfuzh Tremas (1920), Syaikh Mukhtarudin Bogor (1930), Syaikh Umar Sumbawa (1930-an), dan Syaikh Abdul Qadir Mandailing (1956). Ulama kontemporer yang belum terlalu lama wafat di kota Mekah adalah Syaikh Yasin Padang (1990) dan KH Maimoen Zubair (2019).
“Antara PKS dan ulama itu seperti dua sisi mata uang. PKS berjuang di jalur politik, dan ulama di jalur dakwah sosial kemasyarakatan. Bahkan ada irisan juga di sana, di mana ada ulama yang menjadi politisi di PKS, atau politisi PKS yang memiliki pondok pesantren. Jadi, wajar kalau PKS selama ini tetap dekat dengan para ulama,” pungkas Adit. (*)








