Ditambahkannya, sejak 1918 di Sumatera Utara sudah ada koran yang menggunakan kata merdeka yaitu Koran Benih Merdeka, dimana sudah digunakan sebagai organ untuk mencapai kemerdekaan.
“Berdasarkan bukti otentik, Sumatera Utara memiliki 5 pelopor koran perempuan pertama di Indonesia. Diantaranya Perempuan Bergerak (Medan, 1919), Soeara Iboe (Sibolga, 1932), Boroe Tapanoeli (Kotanopan, 1940),” ungkap Prof. Ichwan yang berhasil mengumpulkan secara fisik 100 koran terbitan 1885 – 1942.
Sumatera Utara, lanjutnya, paling tidak memiliki 10 tokoh pers nasional, bahkan ada yang mendapat gelar ‘Raja Delik Pers’ di Indonesia, bernama Parada Harahap. Julukan tersebut didapat lantaran ia sering mengkritisi Belanda dalam pemberitaan, sehingga Parada pernah 12 kali keluar masuk penjara.
Dalam FGD yang diselenggaran Panitia HPN Pusat bekerjasama dengan Pemprov. Sumatera Utara itu, hadir Ketua Umum PWI Pusat Atal S Depari, Kepala dinas Kominfo Sumut, Ilyas Sitorus, mengambil tema “Seruan dari Medan: Pers Bebas, Demokrasi Bermartabat” dikuti wartawan-wartawan senior terutama yang berasal dari Medan dan juga melibatkan kalangan akademisi, Kominfo serta asosiasi wartawan serta ASN di Pemprov Sumatera Utara.








