Wartawan Perempuan Penguji dan Peliput Kegiatan Presiden Itu Berpulang

Perjalanan jurnalistik yang ia jalani perlahan-lahan, menjadi tumpukan pengalaman yang besar. Seabrek pengalaman biasanya bisa di-monetisasi. Tetapi bagi Ketty tidak begitu. Buktinya dia hidup dalam kesederhanaan.

Ketty suka menyenangkan orang banyak tanpa mementingkan kesenangan sendiri. Hidupnya altruistik. Begitulah wartawan pada umumnya.

Selain pernah bekerja di Harian Jayakarta pada tahun 1990-an, ia pernah bekerja di beberapa media di ibu kota.

Di era disrupsi teknologi dan sosial yang mengakibatkan media cetak bergelempangan, Ia berusaha tetap semangat menjadi wartawan, antara lain di Menteng GRIP Magazine Jakarta, Kabar7News.com dan menjadi Pemimpin Redaksi di Top-News.Id.

Untuk memaksimalkan manfaat pengetahuan dan pengalamannya, dia juga mendedikasikan dirinya sebagai penguji kompetensi wartawan di lembaga uji PWI Pusat mulai tahun 2012. Dia menguji kompetensi wartawan di mana-mana. Penguji nasional.

Baca Juga  Jenal Mutaqin Datangi Kampung Lebak Sari Terkait Rencana Pembangunan Jembatan Penghubung Yang Diimpikan Warga

Ketika jumlah penguji di PWI bertambah banyak dan tidak memungkinkan memaksimalkan pengabdiannya, Ketty memperluas jaringan pengabdiannya.

Ketty membantu lembaga uji lain di luar PWI, yang membutuhkan penguji, yakni lembaga uji kompetensi wartawan yang dikelola oleh Fakultas Komunikasi Universitas Prof. Dr Moestopo (Beragama) atau UPDM (B) hingga akhir hayatnya.

Semasa hidupnya, ia tidak hanya menjadi penguji kompetensi wartawan, tetapi kerap didaulat menjadi nara sumber bidang jurnalistik di berbagai lembaga hingga ke Sumatera dan Sulawesi.

“Suatu pelajaran sekaligus kesempatan meningkatkan diri menjadi penguji kompetensi, saya sering berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman,” kata Ketty dalam sebuah biodata yang ia bagikan pada UPDM (B). Dalam biodata singkat itu, Ketty menyatakan merasa bersyukur dapat bergabung dengan lembaga uji kompetensi wartawan di UPDM (B).

Baca Juga  Pertamina Patra Niaga Regional JBB Wujudkan Ekonomi Sirkular Melalui Program Daur Ulang Terpadu

Itulah Ketty, waktunya selalu ada untuk kita. Dia memilih hidup sendirian untuk bisa bekerja bersama kita.

Mamun selama sakit di rumah sakit tidak ada yang menunggunya, kecuali saudara iparnya bernama Vani. “Selama sakit saya yang menunggunya di rumah sakit,” tutur Vani yang menjadi contact person ketika teman-teman Ketty akan menjenguknya.

Kini Ketty, aktivis organisasi pers itu telah tiada. Banyak kebaikan yang telah ditorehkan selama hidupnya, menjadi amal kabajikan. Selamat jalan Dra Katherina Margaretha Saukoly. (*)

Pos terkait