“Yang membedakan CapGoMeh-Bogor Street Festival dengan even lain adalah untuk merayakan keberagaman. Dari ujung sana ke sana hadir untuk merayakan persaudaraan,” tuturnya.
Dia juga menyebut CapGoMeh yang terselenggara dan bisa dirayakan bersama bukan sekadar hasil perencanaan 1-2 hari atau 1-2 bulan tapi buah adat kota Bogor sejak beratus tahun lalu.
“DNA Kota Bogor adalah cinta keberagaman. Karenanya, CapGoMeh-Bogor Street Festival menyampaikan pesan dari Bogor untuk Indonesia, bersatu dalam keberagaman,” tambahnya.
Capgomeh adalah hari terakhir perayaan Tahun Baru Imlek bagi warga keturunan Tionghoa baik yang beragama Buddha, Konghucu, maupun lainnya. Di China, perayaan Capgomeh ditandai dengan festival lampion. Di Kota Bogor, perayaan Capgomeh umumnya ditandai dengan parade gotong tandu patung para dewa serta permainan barongsai dan naga. Beberapa tahun terakhir ini, parade menjadi festival seni budaya Indonesia. Keragaman seni budaya pun tampil.
Tahun 2023 ini, acara dimulai para inohong (sesepuh) Bogor dengan ruwatan serta kesenian hadrah. Sebagai pembuka, lagu kebangsaan Indonesia Raya juga dinyanyikan bersama yang dilanjutkan doa bersama semua tokoh agama. Para tokoh agama yang memimpin doa lintas agama ini adalah K.H. TB Muhyidin, Romo Mikail Endro Susanto, Pr. Pdt. Arif Multi Ardania, Y.M. Bhante Dharmarakkhita Sthavira, JM Made Sutem, Ws. Yudi Brata.
Sebelum pemukulan gong sebagai tanda acara dibuka secara resmi, para tamu undangan mendapatkan cai lahang – minuman khas Sunda yang berasal dari air nira.








