Walikota Surabaya Peduli Pada Rutilahu Wong Cilik Rek

Walikota

Untuk mengikat nilai-nilai kegotong-royongan itu, dalam berkomunikasi dengan warganya, Cak Eri menggunakan bahasa Indonesia, campur Jawa (kromo dan ngoko) dengan gaya bahasa Suroboyoan. Selain itu juga tidak melupakan nilai-nilai religiusitas. Dalam hal ini, para warga penerima manfaat, diajak berdoa, diantaranya dengan cara slametan atau kenduri bagi warga Jawa muslim. Saat penyerahan kunci, ketika dandan omah telah usai, ia selalu berpesan ” Bapak, Ibu, rumah yang sudah didandani ini jangan dijual.”

Arsitekturnya ada dalam hati
Manfaat program dandan omah yang sudah dimulai Pemkot Surabaya sejak 2015, tidak hanya dirasakan bagi mereka yang rumahnya diperbaiki, tapi juga masyarakat hingga Pemkot Surabaya. “Masyarakat yang menerima program dandan omah mendapat kualitas hunian bagus, kesehatan meningkat, dan taraf ekonomi naik karena rumah itu bisa menjadi tempat layak untuk usaha,” kata Cak Eri.

Baca Juga  Tindaklanjuti Rekomendasi BPK, DPRD Kota Bogor Kecewa Ada Tiga SKPD Yang Belum Menindaklanjuti

Masyarakat secara keseluruhan juga mendapatkan manfaat dari program tersebut. Program tersebut melestarikan gotong royong, meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat serta meningkatkan kesadaran pada kualitas hunian dan lingkungan.

“Pemkot Surabaya ikut mendapatkan manfaatnya pula dari program dandan omah. Program itu mengurangi kawasan kumuh. Pemkot bisa berkolaborasi dengan swasta, adanya penataan kota, dan pada gilirannya peningkatan kesejahteraan warga,” jelas Wali Kota Surabaya.

Seorang juri bertanya di mana tempat arsitektur lokal pada rumah-rumah rutilahu yang sudah menjadi layak huni? Wali Kota itu mengatakan: “Yang utama bagi kami adalah membangun rumah yang kumuh jadi pantas di huni. Sedangkan soal arsitekturnya, itu ada dalam hati,” katanya. (*)

Pos terkait