“Tujuannya bagaimana cara meningkatkan literasi kita yang dari hari ke hari tahun ke tahun itu masih tertinggal. Tetapi, dari Bogor ini kami banyak mendapat pelajaran, best practice, juga keluhan yang mereka rasakan dibawah, Alhamdulilah keluar. Jadi, apa adanya. Tadi pun disampaikan keluhan-keluhan. Ini sangat berharga bagi kami yang kedepannya akan tercipta saran,” ujarnya.
Mengenai Perpustakaan Kota Bogor, lanjut Faqih, ini bisa menjadi contoh bagi perpustakaan di daerah lainnya.
Senda dengan Bima Arya, anggota Komisi X DPR RI, Rano Karno atau yang dikenal dengan pemeran Si Doel Anak Sekolahan ini menyampaikan ada tiga kelompok untuk meningkatkan literasi. Pertama aktor, kedua kultur dan ketiga infrastruktur.
“Perpustakaan ini adalah infrastruktur. Sementara yang paling penting yakni aktor, yakni pustakawan.Tadi, diakui oleh pak wali sendiri ternyata karena mengelola perpustakaan ini punya disiplin ilmu sendiri. Itu kualifikasinya pustakawan yang paham tentang buku, manajemen buku, distribusi dan segala macam,” katanya.
Mengenai kultur, lanjut Rano Karno, yakni budaya kebiasaan gemar membaca yang kemudian didukung oleh infrastruktur yang memadai.
“Saya bilang infrastruktur ini perpustakaan Kota Bogor luar biasa. Itu full AC. Saya gak pernah menemukan di sebuah kota ada perpustakaan yang full AC seperti ini. Artinya apa, pimpinan daerah konsen. Saya tahu betul Kang Bima ini, beliau cendekiawan. Dia berangkat dari edukasi. Artinya memang dia sangat konsen kepada itu,” ujarnya.








