Ada dua mainstream yang diamati dirinya, yaitu aktivis yang didalamnya ada OKP (Organisasi Kepemudaan) dan sebagainya serta komunitas.
“Teman-teman komunitas itu kreatif, updated, kekinian dan kolaborasi, tetapi militansinya agak kurang serta ideologinya tidak sekuat aktivis. Sementara aktivis, memiliki ideologi, punya doktrin, punya militansi namun seringkali agak kurang piawai berkolaborasi senangnya oposisi,” katanya.
“Akhir-akhir saya melihat keduanya di kombinasikan. Sebetulnya Menteri Pemuda dan Olahraga kita kali ini adalah representasi dari kedua mainstream ini. Pernah di HMI dan pernah di komunitas kreatif juga, jadi cocok sebetulnya. Saya kira apa yang ada di ruangan ini mencerminkan bagaimana ke depan kita menjemput masa depan Indonesia Emas tahun 2045,” ungkap Bima Arya.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Dito Ariotedjo menyampaikan pandangannya, di era yang sangat terbuka dan era yang perkembangan informasinya sangat cepat, Kohati hari ini sudah mentransformasi budaya menjadi lebih modern dan ini menjadi satu terobosan karena organisasi saat ini sudah tidak harus kaku lagi tapi harus fleksibel dan inklusif.
“Tantangan bagi Kohati bagaimana menjadikan Kohati relevan bagi generasi Z dan bisa melekat di hati anak muda Indonesia. Kita di Kemenpora tengah mendorong banyak perubahan khususnya di dunia kepemudaan, bagi OKP-OKP yang ingin bertransformasi kita siap membantu asistensi. Kita membuka pintu bagi Kohati khususnya untuk meningkatkan indeks pembangunan pemuda Indonesia yang saat ini ada di angka 51,6 dengan target 56,7 di tahun 2024. Salah satu kunci utama dari indeksnya adalah isu gender dan diskriminasi dengan jaringan dari pusat hingga daerah mempunyai daya impact dalam membangun pemuda,” kata Menpora.








