“Karena sayang kalau hanya di pameran di sini, sementara passion dan concern para siswa. Salah satu modal kota untuk berkembang adalah berkembangnya iklim atau ekosistem inovasi, karena pemkot punya keterbatasan, baik SDM, anggaran dan yang lainnya,” ujarnya.
“Dengan inovasi, Kota digerakkan inovasi yang tumbuh dari warga. Kalau dinas tidak punya passion, pemkot tidak concern maka kita akan ditinggal. Anak-anak muda lebih punya passion, update. Kalau passion dan concernnya kurang maka kolaborasi, sehingga mampu membuka pemikiran kita untuk bisa mengetahui apa yang saat ini tengah digemari apa, bisa mengetahui bahwa segala sesuatunya tidak selalu pakai uang. Kadang gagasan kuat, kegiatan bisa jalan,” paparnya.
Pada kesempatan itu, Bima Arya menyosialisasikan maskot RuBo dengan tujuan jangka panjang untuk kesejahteraan dan pendapatan asli daerah Kota Bogor.
Founder SMX School of Makers, Agus Gusnul Yakin menyebutkan, ini tahun kedua dari acara Bogor Makers Fair SMX School of Makers dan sudah dimasukan calendar event untuk memfasilitasi anak-anak muda menampilkan karya dari projek yang didasarkan pada passion dan concern. Apa yang disenangi dan kepedulian terhadap isu-isu yang ada di lingkungan masyarakat.
“Sebagai ajang panggung bagi siswa SMP SMA di SMX School Makers, ada 30 projek dari para siswa berdasarkan dan mempertemukan dua hal, yakni passion dan concern, apa yang disenangi dan memadukan dengan kepedulian terhadap kondisi yang ada disekitar mereka. Diantaranya membuat aromaterapi berbahan daun sereh atau daun pisang,” jelasnya.








