Oleh karenanya sebagai Pj Wali Kota Bogor, Hery Antasari meneruskan apa yang sudah baik, termasuk apa yang sudah di pondasikan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya dan para tokoh.
“Betul kata pak Kadis Arpus seperti kata Bung Karno, ‘Jas Merah’ jangan sekali-kali melupakan sejarah. Oleh karenanya dengan menamai sarana prasarana literasi di tengah-tengah kita dinamakan dari tokoh-tokoh yang sudah berjasa bagi tokoh pembangunan kota,” katanya.
Saat ini koleksi di Perpustakaan Kota Bogor yang awalnya 30 ribu menjadi 85 ribu ditambah dengan 2.000 literasi berbentuk digital. Tingkat kunjungan yang semula 50 pengunjung, kini 500 pengunjung per hari dan keanggotaan perpustakaan yang semula 3.000 kini menjadi 20.000.
Hery Antasari menjelaskan bahwa literasi adalah investasi bagi masa depan anak-anak di tengah serbuan digitalisasi informasi, pengetahuan yang bisa diakses melalui hands on ke smartphone yang juga memiliki banyak tantangan, diantaranya adalah adanya informasi yang belum saatnya didapatkan atau diakses oleh anak-anak.
“Sehingga tentu itu harus diimbangi dengan berbagai informasi, termasuk dari literasi-literasi yang konvensional maupun literasi digital,” ujarnya.
Kepala Diarpus Kota Bogor, Rudiyana menyampaikan bahwa Perpustakaan Kota Bogor sudah ada sejak tahun 1975 dengan lokasi terakhir di komplek GOR Pajajaran sebelum berpindah ke Jalan Kapten Muslihat.








