Kedua, melalui pendekatan komunitas. Yakni, melalui pembentukan Konsorsium Penggiat dan Komunitas Ayah Teladan (Kompak Tenan). Ketiga, pendekatan berbasis desa atau kelurahan ayah teladan di Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung Bangga) ini untuk menjangkau para ayah yang berada di desa.
Terakhir, pendekatan basis sekolah melalui kegiatan Sekolah Bersama Ayah di sekolah. Pendekatan ini memprioritaskan lokus sekolah-sekolah yang di dalamnya terdapat Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIKR) atau Sekolah Siaga Kependudukan (SSK). Bentuknya berupa kegiatan kelas pengasuhan (parenting) untuk para ayah.
“Ada empat indikator atau target khusus yang ingin dicapai melalui program ini. Seorang ayah menjadi ayah yang teladan jika mampu memenuhi empat dimensi, meliputi dimensi interaksi (engagement), aksesibilitas (accesssibilty), tanggung jawab (responbility), dan dimensi keterlibatan (involment) dalam pekerjaan rumah/domestik,” papar Wihaji.
Untuk memastikan kesinambungan program, Wihaji berjanji untuk memasukkan GATI ke dalam lampiran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, dengan nama indikator “Persentase ayah yang memiliki pengetahuan tentang pengasuhan anak dan pendampingan remaja”. Wihaji menargetkan sebanyak 1.847.847 bisa tercapai pada 2025. Jumlah ini setara dengan 5,58 persen dari jumlah kepala keluarga laki-laki usia 15-49 tahun berdasarkan Pendataan Keluarga tahun 2024.
Disinggung evaluasi keberhasilan program dan sistem monitoring yang digunakan, Wihaji mengaku telah menyiapkan sistem evaluasi dan monitoring yang terintegrasi melalui portal GATI. Sistem ini dibangun untuk memastikan program GATI berjalan efektif dan berdampak nyata di masyarakat.








