Pada awal 2020, Aisha memperoleh dana pendampingan UMK senilai Rp50 juta dari Pertamina yang digunakan untuk membeli lahan dan membangun galeri permanen. Secara mengejutkan, permintaan justru meningkat tajam saat pandemi COVID-19, terutama dari para desainer di Jakarta dan Bandung yang memasok kebutuhan pakaian untuk pejabat dan selebritas nasional.
Kini, Dimas Batik telah tumbuh menjadi salah satu produsen batik tulis terbesar di Tasikmalaya. Produknya dipasarkan ke berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta dan Bandung, serta telah menembus pasar ekspor ke Singapura dan Jepang.
“Motif bunga kecil seperti melati, sakura, dan truntum sangat disukai konsumen Jepang. Kami menyesuaikan selera tanpa meninggalkan identitas batik,” kata Aisha.
Untuk memperluas jangkauan pasar global, Dimas Batik aktif mengikuti berbagai pelatihan, termasuk Pertamina UMK Academy kelas Go Global pada tahun 2024. Motif-motif yang ditawarkan pun sarat filosofi, seperti Merak Ngibing yang menggambarkan keindahan gerakan merak, Tiga Negeri yang memadukan budaya Jawa, Pekalongan, dan Lasem, Cupat Manggu yang terinspirasi buah manggis, serta Sidomukti yang melambangkan harapan dan kemakmuran.








