Bahkan, insiden seperti ban meletus, rem blong, hingga terjatuh sudah menjadi pengalaman sehari-hari.
“Insiden atau kejadian-kejadian selama pengantaran MBG sering; mungkin dari ban meletus, rem blong, sampai jatuh pun kita sering. Sampai-sampai setiap tiga hari sekali itu rem saya benerin ke bengkel.”tuturnya.
Namun di balik beratnya medan, Nurbaeti memahami betul arti kehadiran MBG bagi warganya. Desa Ciguha dikenal sebagai wilayah pertanian sayur, tetapi minim akses protein hewani dan buah-buahan.
“Karena di Ciguha itu hanya ladang sayur yang banyak. Untuk ladang buah, ternak ayam, ayam petelur itu tidak ada. Jadi adanya MBG ini membantu masyarakat untuk lebih hidup sehat, makan bergizi, dan pola asuh lebih baik.”
Program MBG tidak hanya mengubah isi piring, tetapi juga mengubah harapan. Dede Sutini (29), salah satu ibu hamil penerima manfaat, merasakan langsung dampaknya.
“Saya senang sekali kepada Bu Baeti karena telah mengantarkan MBG kepada saya, kepada calon bayi saya. Sebelum ada MBG kami sangat kesulitan, jangan kan untuk yang lain, untuk makan saja agak sulit. Tapi alhamdulillah setelah adanya MBG, makan jadi bisa lah alhamdulillah, dan sangat membantu sekali buat keluarga kami.”ujarnya.
Hal serupa dirasakan para ibu balita. Tutih (27) menuturkan perubahan pada anaknya setelah rutin menerima MBG.
“Respon dari penerima MBG ini alhamdulillah antusiasnya baik sekali. Dari awalnya anak tidak suka makan, tidak suka nyemil, setelah adanya MBG anak-anak jadi lebih teratur dalam makan. Dia semakin aktif dan makannya juga tambah lahap.”








