Menurutnya, setiap era memiliki tantangan serta karakter generasi masing-masing. Perubahan tersebut dapat dilihat dari perkembangan teknologi dan sarana komunikasi yang semakin pesat dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Adityawarman menggambarkan perubahan teknologi komunikasi dari masa ke masa. Mulai dari komunikasi secara langsung, surat-menyurat melalui sahabat pena yang membutuhkan waktu berbulan-bulan, penggunaan telepon umum, hingga perkembangan telepon genggam yang memungkinkan komunikasi dilakukan secara cepat dan real-time.
Menurutnya, perkembangan teknologi tersebut menjadi gambaran bahwa perubahan zaman terjadi dengan sangat cepat. Meski demikian, perubahan zaman tidak mengubah tanggung jawab generasi muda dalam memberikan kontribusi bagi bangsa.
“Kalau zaman berubah cepat, tapi anak muda perannya sama,” tegasnya.
Adityawarman menilai mahasiswa memiliki posisi penting sebagai salah satu pilar kebangkitan bangsa. Karena itu, mahasiswa STMIK Tazkia didorong untuk memanfaatkan masa perkuliahan dengan sebaik-baiknya sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan dan menyongsong Indonesia 2045.
“Oleh karena itu, mahasiswa yang hadir, berkuliah di STMIK Tazkia, ingatlah tugas mahasiswa, tugas anak muda itu sama. Dia akan menjadi pilar kebangkitan sebuah bangsa,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar terus memperluas pengetahuan dan meningkatkan kemampuan selama menempuh pendidikan.
Menurutnya, ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dapat menjadi bekal penting dalam menentukan langkah serta membangun karier di masa mendatang.
Selain fokus pada pendidikan, Adityawarman turut mengingatkan mahasiswa untuk menghargai perjuangan orang tua yang telah mendukung proses pendidikan mereka.
Menurutnya, biaya pendidikan, uang saku, hingga pendampingan orang tua selama menjalani perkuliahan merupakan bentuk pengorbanan yang harus dijawab dengan kesungguhan dalam belajar.
“Jadikan motivasi bagaimana nanti bisa memuliakan kedua orang tua, menjadi motivasi kita untuk belajar dengan baik. Ya setelah itu memuliakan orang tua, insyaallah kita akan juga berkontribusi besar untuk bangsa dan negara Indonesia,” ungkapnya.
Menutup paparannya, Adityawarman mengutip pepatah ulama mengenai pentingnya ilmu pengetahuan. Ia menekankan bahwa ilmu menjadi salah satu bekal penting bagi seseorang dalam menjalani kehidupan sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan bangsa.
Melalui kegiatan Kuliah Umum STMIK Tazkia tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mendapatkan wawasan mengenai kepemimpinan dan perkembangan zaman, tetapi juga semakin termotivasi untuk menuntut ilmu, menghargai perjuangan orang tua, serta mempersiapkan diri mengambil peran dalam pembangunan Indonesia menuju 2045. (*)
Ketua DPRD Kota Bogor Dorong Mahasiswa STMIK Tazkia Jadi Pilar Kebangkitan Bangsa








