“Kalau ke luar negeri tidak aktif, tidak punya karakter risteker tidak akan menjadi apa-apa. Saya bersama teman-teman PPID mengalami bagaimana kita membagi waktu antara berdiskusi dengan teman-teman dari mana-mana, mengkaji, bertukar pikiran, memahami jalan pikiran orang-orang yang sangat berbeda-beda, dilatih berinteraksi dengan pejabat dari Indonesia dan di gojlok mentalnya menembus jaringan internasional,” tegasnya.
Bima Arya menambahkan, di luar negeri inilah ia merasakan kemewahan helicopter building atas negara Indonesia. Pasalnya, jika hanya di Indonesia ibarat ada di lapangan ‘becek’ yang tidak bisa melihat dari jauh secara obyektif. Sebaliknya jika melihat dari kejauhan misalnya di Australia, Amerika, Inggris akan memiliki helicopters view terhadap apa yang terjadi di Indonesia.
“Ini melatih kita untuk jadi pengamat yang baik, untuk memiliki analisis yang baik, menjadi konseptor sekaligus untuk menyusun action kita, ini bisa dibangun ketika memiliki jarak yang cukup. Saya harap walaupun di masa Pandemi Covid-19 anggota PPID tetap mendapatkan kesempatan mengasah karakter, sebagai calon pemimpin di masa depan,” pungkasnya.








