Senada, Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim mengatakan, ia terkejut dengan banyaknya anak-anak Kota Bogor yang setelah diperiksa kondisi kesehatan matanya kurang baik, bahkan ada yang minus dan plusnya sangat tinggi. Ini tentu ada hal-hal yang mempengaruhi mulai dari kebiasaan memakai gadget berlebihan, kurangnya pencahayaan di ruangan, posisi membaca dan lainnya.
“Ini menjadi perhatian kita bersama di masa Pandemi Covid-19, PJJ ternyata mengandung risiko. Jadi kami mengingatkan kepada orang tua untuk hati-hati dan turut memperhatikan kesehatan anak-anaknya,” jelasnya.
Sementara itu, Camat Bogor Timur, Rena Da Frina mengatakan, 800 peserta pemeriksaan mata ini datanya diambil dari puskesmas se-Kota Bogor sebanyak 440 ditambah dengan anak-anak dari pesantren dan panti asuhan. Anak-anak ini dijemput memakai bus Uncal yang titik jemputnya sudah ditentukan dan dikoordinasikan dengan kecamatan, puskesmas dan Dinkes.
“Dari 800 anak ini memang tidak semuanya dapat kacamata karena ada batasannya anak usia 7-18 tahun, plus minusnya 0,75 sampai 6 sementara yang plus minusnya di bawah 0,5 atau diatas 6 tidak dapat kacamata. Kacamata dibuat sebulan karena hasilnya dikirim lebih dulu ke Singapura. Nanti baru dibagikan di kecamatan masing-masing koordinasi dengan puskesmas,”pungkasnya. (*)








