Bima Arya Banggakan Potret Kebersamaan Guan Tjo dan Pak Oo di Festival HAM 2021

  • Whatsapp

BOGOR. Dalam Festival Hak Asasi Manusia (HAM) yang berlangsung di Kota Semarang, 16-19 November 2021, Wali Kota Bogor Bima Arya menceritakan contoh kebersamaan dalam keberagaman yang sederhana di Kota Hujan.

Menurut Bima, toleransi bukan hanya tercermin dari rumah ibadah yang berdampingan, kerukunan antar pemuka agama. Tapi juga bisa tergambar melalui kuliner.

“Mas Hendi (sapaan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi) kemarin menampilkan foto Soto Semarang yang merupakan contoh yang paling sederhana dari keberagaman. Kuah sotonya dari India, so’un dari Tiongkok, perkedelnya dari Eropa dan Tempe dari Jawa,” ungkap Bima Arya.

Bima mengatakan, contoh sederhana sebuah keberagaman juga banyak terjadi di kota-kota lainya. Tak terkecuali di Kota Bogor. Di kota hujan ini, Bima Arya mengaku selalu bangga dengan cerita persahabatan antara etnis Tionghoa Guan Tjo dengan pribumi Pak Oo di Jalan Suryakencana, Bogor Tengah.

Baca Juga  Bima Arya Tinjau Operasional Pasar Tradisional Non-Sembako hingga Warung Makan

“Guan Tjo berjualan nasi goreng pete dan Pak Oo jualan sate sapi. Mereka ada dari tahun 60-an sampai sekarang terus berdampingan, tidak terpisah dari generasi ke generasi, sampai anak cucunya,” ujar Bima Arya.

“Mereka tidak pernah mau dipisahkan walaupun dikasih ruko yang mewah, yang satu di tempat yang lain. Terdengar sederhana tapi inilah tradisi luar biasa, investasi sosial dari para leluhur kita di masa lalu. Kita punya modal itu,” tambahnya.

Sebelumnya, dalam momen yang sama Bima Arya yang juga Ketua Asosiasi Wali Kota se-Indonesia (APEKSI) Bima Arya mengungkapkan menguatnya konflik sosial, agama dan politik di sejumlah negara di dunia membuat mereka terpecah belah. Tak sedikit pula peradaban kota maju di yang dibangun dengan teknologi canggih hancur dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Baca Juga  Bima Arya Resmikan Jalan Ciheuleut Jadi Jalan R. H. Soelaeman A. Kartadjoemena

“Sejarah dunia memberikan kita banyak sekali pelajaran. Banyak peradaban kota yang maju, yang hebat, yang dibangun cukup lama dengan teknologi yang canggih dengan keterampilan yang jauh melebihi rata-rata, tetapi kemudian hancur dalam waktu yang tidak terlalu lama. Karena konflik sosial, konflik agama, konflik politik,” ungkap Bima Arya.

Saat menyampaikan ini, Bima Arya sembari memperlihatkan gambaran konflik di Aleppo, Suriah dan konflik akibat hak individu yang hilang di Ukraina, Eropa Timur.

Ia melanjutkan, teknologi yang canggih, infrastruktur yang dahsyat bisa hancur sekejap karena konflik. Jadi, menurut Bima, membangun kota bukan hanya membangun lembaganya, bukan hanya perangkat politiknya, bukan hanya infrastrukturnya. Tetapi membangun kota adalah membangun manusianya yang menghormati sesama manusia. (*)

Baca Juga  Tiga Atlet Drum Band Kota Bogor Raih Prestasi Pada Lomba Virtual Marching Band.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *