Talkshow yang dipandu oleh Sofiah, Diektur Metamorfosis Menuju Inklusi juga menghadirkan Ana Ismawati, S.IP, MSi, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bogor yang menyampaikan berbagai program untuk merespon situasi ini. Program-program yang disampaikan diantaranya penyelenggaraan Kota Layak Anak dan Responsif Gender, sistem pelayanan kekerasan berbasis gender yang terintegrasi di Kota Bogor, melalui Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan mengembangkan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), serta Satgas KDRT di setiap kelurahan dan aplikasi berbasis android Pojok Konseling Keluarga Unggul (Pollink-Gaul) yang akan diluncurkan dalam waktu dekat.
Yulia Anita Indrianingrum, SH, MSC, Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum dan HAM Setda Kota Bogor menjelaskan bahwa pada tahun 2020 Bidang Hukum dan HAM sudah berbenah dengan memberikan penyuluhan, pendampingan dan membuka bantuan hukum bagi masyarakat miskin dengan bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang ditunjuk. Saat ini dengan keterbatasan yang ada perlu membuka diri dan bekerjasama dengan organisasi untuk terlibat aktif dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan meningkatkan pemahaman kekerasan berbasis gender.
Selain talkshow, kegiatan kampanye HAKTP juga menampilkan pameran foto kekerasan terhadap perempuan oleh Metamorfosis, Mural bertemakan Stop Kekerasan Terhadap Perempuan hasil karya Ray Mural Depok dan penampilan music bersama Sahat Farida Accoustic.
Beberapa peserta mengatakan mengikuti kegiatan ini membuat mereka mendapatkan pengetahuan tentang isu kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan berbasis gender. Ada yang kemudian meminta Metamorfosis mengadakan sharing atau pelatihan gender lanjutan. Pameran foto dan mural juga menjadi perhatian tersendiri bagi para peserta karena persoalan kekerasan gender dan dampaknya terhadap perempuan tersampaikan melalui karya-karya seni tersebut. (*)








