Menurutnya, jalan keluar dari tiga persoalan ini yakni GCG. Komitmen, aturan main, pelaksanaan bisnis yang sehat dan beretika. Ia pun menggarisbawahi kata kunci komitmen dan etika.
Pasalnya, hukum merupakan norma-norma yang seringkali belum menjangkau banyak hal, tapi etika merupakan filosofi yang mendasari baik buruk dari peradaban ke peradaban.
“Bapak ibu boleh saja main golf seminggu tiga kali, di aturan tidak dilarang tapi itu etis atau tidak? Saya bisa saja pakai mobil dinas ke acara partai, tapi etis atau tidak? Ini tidak mudah karena butuh keteladanan dan kesepakatan atau komitmen,” tuturnya.
Menurutnya, kesepakatan yang dibuat hari ini ia yakini canggih. Namun masalahnya apa kesepakatan ini bisa menjadi sumber keteladanan. Di sinilah menurutnya direksi jadi planmaker. Role model, benchmarking yakni direksi.
“Kalau direksi tidak melakukan itu ya selesai, itu beratnya jadi pemimpin. Mari sama-sama ikhtiarkan kesepakatan yang dibuat ini bukan saja menyelamatkan dari jeratan hukum, tapi juga menempatkan kita ditempat terbaik di akhirat,” imbuhnya.
Di tempat yang sama, Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan, Rino Indira Gusniawan mengatakan, hari ini pihaknya menyelaraskan GCG dengan program kerja Perumda Tirta Pakuan. Pada 2021 lalu pihaknya fokus pada perbaikan pelayanan dengan beberapa pembangunan fisik yang sudah dibangun.








