Auri mengakui, para instruktur hipnoterapi sudah kompeten. Tidak perlu diragukan.
Katanya, hipnotis bermanfaat bagi wartawan yang sering kehilangan ide, karena tiap hari harus memantau dan melaporkan peristiwa.
Tentang hypnowriting, Auri mengakui sangat relevan bagi wartawan. Sekarang ini, pers memasuki masa kritis, karena perkembangan teknologi.
“Media main stream berjuang keras dengan media sosial yang hampir tak terkontrol. Sementara wartawan terikat kode etik dan berita harus seimbang.
“Hypnowriting memberi jalan terang bagi wartawan,” cetusnya.
Auri berharap, PKHI tidak hanya mengembangkan hipnoterapi, tapi juga hypnowriting dan bersinergi dengan PWI.
“Hypnowriting merupakan ide cemerlang dan membuat karya jurnalistik lebih menarik,” tambahnya.
Diakui, hipnotis adalah cabang ilmu, bukan klenik seperti pertunjukan di televisi.
Diharapkan kerja sama tidak terbatas hanya di HPN, tapi berlanjut ke hypnowriting.
Metode hypnowriting ini tercetus ketika Ketua PWI Peduli Pusat M Nasir, bersama Karim Paputungan dan tim bertemu dengan Pengurus PKHI. Muncul gagasan tentang perlunya pengetahuan hypnowriting untuntuk insan pers. Yakni bagaimana menyajikan tulisan yang menghipnotis, sehingga menarik pembaca.
Secara terpisah Ketua Umum PWI Pusat Atal S. Depari menitipkan salam melalui PWI Peduli untuk disampaikan kepada pengurus PKHI.
*Imunitas*
Master I Wayan Miasa tampil di panggung menggembleng imunitas peserta dengan berbagai gerakan tubuh. Semua peserta semangat mengikuti.








