“Ini juga salah satu contoh Taman Topi belasan tahun dikuasai pihak-pihak tertentu, legal ada kontraknya tapi keuntungan untuk PAD-nya sedikit dan lebih banyak mudharatnya macet, kotor, prostitusi, penyakit sosial, lalu kita bebaskan, kita kembalikan fungsinya. Ruang publik jangan sampai dibajak oknum baik legal atau ilegal,” tegasnya.
Kedua lanjutnya, yakni integrasi. Kawasan itu akan lebih bermanfaat ketika integrasi dengan sekelilingnya, selaras dengan fungsi lainnya. Ada alun-alun sebagai ruang publik bersama, ada transportasi, ada pasar, ada masjid. Menurutnya PT. KAI diuntungkan dengan adanya alun-alun, Masjid Agung juga harus diuntungkan karena terhubung dengan alun-alun.
“Ke depan integrasi ini akan terus berkembang, tahun ini akan dibangun sky bridge, kita kawal pembangunannya dan terus diperbaiki pedestriannya,” imbuhnya.
Ia berjanji, akan berbicara dengan berbagai pihak untuk pengembangan di sini, karena tidak semua harus dengan APBD. Dia menegaskan, tidak suka jika selalu bergantung dengan APBD. Terbukti kegiatan ini terselenggara berkat berkolaborasi tanpa ada APBD sama sekali.
“Saya berterimakasih dengan kolaborasi yang dilakukan. Karena sumber pendanaan banyak. Salah satunya dengan CSR.








