Kemudian Bima Arya menjelaskan, bahwa pada 1986 di Filipina terjadi people power menurunkan presiden saat itu Ferdinand Marcos yang sudah 20 tahun berkuasa karena korup dan diktator.
“Itu tahun-tahun yang kelam dalam sejarah Filipina. Sekarang, puluhan tahun setelah Marcos diturunkan secara paksa, anaknya terpilih jadi Presiden Filipina. Suaranya tinggi pula,” terang Bima.
“Siapa pemilihnya? Anak-anak muda Filipina yang tidak belajar dari sejarah yang tidak tahu sejarah bangsa. Ini hati-hati. Poin saya adalah jangan pernah melupakan sejarah. Masalah pilihan politik kalian boleh pilih siapa saja, tapi ketika memilih harus lihat sejarahnya. Ya, memang bisa saja anaknya tidak seperti bapaknya. Bisa saja. Tapi kita semua harus jadikan itu semua sebagai pembelajaran,” tandasnya.(*)








