BKKBN Jabar Luncurkan WA Business “Pasti KB”

Yang Muda yang Cegah Stunting

Sementara itu, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menilai kegiatan Konten Fest yang dihelat Jawa Barat sebagai langkah kreatif untuk menyasar kalangan remaja. Pelopor rebranding BKKBN ini menyebutnya sangar kreatif. Terlebih belum ada provinsi lain yang menyelenggarakan acara serupa.

“Saya menyambut baik Konten Fest 2022 ini. Saya mengapresiasi setinggi-tingginya dan ini merupakan kolaborasi kegiatan berbasis konten. Baru Jabar yang mengadakan Konten Fest. Ini sangat keatif. Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi. Dan, memang kita harus selalu mengedepankan media, dalam hal ini media sosial, yang dalam hal ini menjadi hal yang utama dalam menyampaikan pesan,” ungkap Hasto saat membuka Konten Fest 2022 dari ruang kerjanya di Jakarta.

Baca Juga  ICMI Komitmen Berikan Bantuan Sarana MCK Warga Korban Banjir Bandang

Menurutnya, prakarsa Jawa Barat ini menjadi sesuatu yang sangat tepat untuk menjawab kekinian. Alasannya, hari ini generasi yang mendominasi populasi adalah generasi muda. Remaja Indonesia berumur 10-24 tahun mencapai 64 juta atau 28,6 persen dari total populasi. Keberadaanya menjadi fokus perhatian penting yang tidak boleh diabaikan. Jika jumlah tersebut digabungkan dengan penduduk usia di bawah 35 tahun, maka jumahnya lebih banyak lagi. Mereka itulah yang mendominasi kehidupan sekarang ini.

Karena itu, sambung Hasto, pihaknya memberikan perhatian besar kepada remaja dan generasi muda pada umumnya. Tidak saja karena mereka ini menentukan berbagai macam kebijakan atau menentukan berbagai macam kegiatan, tetapi karena mereka juga yang bakal melahirkan generasi berikutnya. Bagi dokter spesialis kandungan ini, peran biologis remaja sangat penting. Sama halnya dengan aspek sosial atau pendidikan.

Baca Juga  Tim Penilaian TP PKK Provinsi Rechecking Kota Bogor

“Saya berterima kasih kepada anak-anak muda yang turut berkiprah dalam Konten Fest 2022 ini. Karena apa? Karena kita punya banyak masalah. Salah satu masalahnya itu yang ironis, yaitu stunting. Hari ini kita gak kurang-kurang amat. Negara kita dikenal gemah ripah, bergelimang keberkahan. Seperti dalam lagu, ‘tongkat kayu jadi tanaman.’ Sayangnya, masih ada anak-anak kita yang kurus hanya karena kurang makan,” kata Hasto.

“Kemudian juga remaja-remaja putri kita sekitar 35 persen masih anemia. Ini ironis. Kemudian ada lagi kekurangan gizi, dalam hal ini adalah kekurangan energi, kalori, protein, dan lain-lain. Angkanya masih sekitar 37 persen. Kalau remaja-remaja itu hamil, kalau kekurangan vitamin C, protein, apa yang terjadi? Begitu dia hamil, maka plasentanya tipis karena memang untuk bisa membentuk plasenta itu membutuhkan vitamin D, juga asam folat, dan kecukupan gizi seimbang lainnya,” tambah Hasto.

Baca Juga  Panen Cabai di Cimahpar,  Upaya Kendalikan Inflasi dari Lahan Tidur

Jika kemudian dipaksakan hamil, maka bayi yang dilahirkan memiliki panjang kurang dari 48 cm. Saat ini, terdapat sekitar 32,6 persen bayi lahir kurang dari 48 centimeter tersebut. Ini jelas menunjukkan tubuhnya kurang gizi. Hal ini pula yang kemudian menimbulkan intrauterine growth restriction (IUGR) atau janin tumbuh lambat.

Pos terkait