BKKBN Jabar Luncurkan WA Business “Pasti KB”

“Karena tumbuh lambat, jadilah stunting. Pendek. Perkembangan otaknya kurang maksimal, sehingga kurang cerdas. Dan, juga daya tahan tubuhnya kurang bagus, sehingga mudah sakit. Sekarang yang stunting masih 24,4 persen. Yang punya tubuhnya kurang optimal itu karena suboptimal nutrisi menjadikan ibunya sakit-sakitan, kemudian bayi yang lahir juga sakit-sakitan. Kemudian lingkungannya kotor, sehingga anaknya mudah diare. Kondisi ini mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak,” papar Hasto.

“Pak Presiden Jokowi melihat ini gak bisa dibiarkan. Karena apa, karena jika pasangan usia subur yang muda-muda ini seperempatnya ini stunting, terus nanti bagaimana itu 2045 di mana kita ingin sekali memiliki generasi kita unggul dan maju. Inilah yang kemudian menjadi pembelajaran dan akhirnya yang namanya bonus demografi itu akhirnya betul-betul tergantung pada remaja-remaja,” Hasto menambahkan.

Baca Juga  Presiden Jokowi Hadiri Jamuan Santap Malam Presiden Biden

Atas itulah Hasto mengaku terus mengampanyekan pencegahan terhadap empat terlalu (4T). Yakni, terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak, dan terlalu sering. Kehamilan teralu sering turut memengaruhi terjadinya stunting. Karena itu, Hasto menekankan bahwa generasi muda memiliki peran penting untuk mencegah stunting.

“Tidak banyak tapi sering juga tidak bagus. Anaknya 2-3 tapi sering, tetap tidak bagus. Anaknya baru berumur 1 tahun sudah hamil lagi. Setahun hamil lagi. Ini juga bisa menimbulkan stunting karena jarak yang terlalu dekat juga mempengaruhi stunting, meningkatkan stunting,” tandas Ketua Pelaksana Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) tersebut.

Di samping gencar berkampanye jangan menikah terlalu muda, BKKBN juga mendorong agar menikah tidak terlalu tua. Idealnya, perempuan menikah di atas 20 tahun dan laki-lakinya 25 tahun. Terlalu muda atau terlalu tua sama-sama berisiko terhadap kesehatan ibu dan bayi yang dilahirkan.

Baca Juga  Bupati Sukabumi Sampaikan Nota Pengatar Reperda Tentang Perubahan APBD TA 2022

“Nikah juga jangan terlalu tua. Jomblonya jangan terlalu lama. Jadi, umur 35 tahun harus sudah menikah. Harus sudah punya anak kalau perempuan. Kalau ada perempuan umur 35 tahun belum menikah, belum sempat hamil, belum sempat melahirkan, ini kalau hamil masuk kelompok kehamilan risiko tinggi (KRT). Usahakan usia 35 tahun sudah puya anak dan punya anak pertama kali di atas 20 tahun,” imbuh Hasto.

Mengutip sejumlah data survei, Hasto menyebut remaja Indonesia pada umumnya mengaku pernah tahu tentang kesehatan reproduksi. Angkanya mencapai 55 persen. Tetapi yang betul-betul mengetahui secara detail atau mendalam masih sangat kecil. Remaja perempuan yang tahu menyiapkan untuk hamil tidak lebih 12 persen. Sedangkan laki-laki pada umumnya lebih cuek, sehingga yang tahu hanya sekitar 6 persen.

Baca Juga  Bima Arya dan Istri Berangkat Haji ke Tanah Suci

“Ini saya kira menjadi tantangan bagi Genre maupun Saka Kencana. Ayo kita harus bisa menjadi teman sebaya untuk memberikan syiar bagi teman-teman agar mereka tahu tentang pentingnya kesehatan reproduksi,” ajak Hasto.(*)

Pos terkait