Dedie sangat berharap festival yang baru pertama kali diselenggarakan ini bisa dilaksanakan di tahun-tahun mendatang.
Dalam festival tersebut Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian, Liferdi Lukman menyerahkan penghargaan kepada Gregory Garnadi Hambali, seorang pioneer dan maestro pengembangan tanaman hias maupun tanaman buah di Indonesia sejak tahun 80-an yang hasil karyanya diakui dunia.
Pada tahun 2006, tanaman aglaonema varietas queen hasil silangannya mampu terjual Rp 660 juta. Penghargaan juga diberikan kepada petani tanaman hias senior yang juga tokoh flora asal Ciapus, Bogor yaitu Haji Uli Sunardi.
“Kementan sangat mengapresiasi festival ini. Florikultura memiliki prospek yang baik sekali pada kondisi-kondisi sekarang ini. Tanaman hias yang memiliki keindahan dan kecerahan mampu memberikan ketenangan yang membantu meningkatkan imunitas atau nutrisi jiwa bagi penikmatnya,” katanya.
Liferdi menyebut, saat pandemi permintaan tanaman hias cukup tinggi. Untuk itu ia berharap festival ini tidak digelar hanya level nasional saja, tapi hingga kelas internasional.
“Ini perlu dikawal oleh semua pihak mengingat Bogor sudah dikenal sentra tanaman hias sejak lama. Jangan berhenti sampai disini, tapi jadikan ini sebagai titik tolak awal untuk bangkit,” ungkapnya.
Staf Ahli Menteri Bidang Produkivitas dan Daya Saing Kementerian Koperasi dan UKM, Yulius menyebutkan, poin positif dari kegiatan Indonesia jangan hanya jadi follower komoditas yang ada di Indonesia.
Harus didorong agar memiliki daya saing sehingga memiliki nilai dan mampu menjadi leader untuk ekspor, terutama tanaman hias yang merupakan sumber daya negeri sendiri.








