Yantie Rachim Ajak Guru PAUD Cegah dan Tangani Stunting

Bahkan, ketika putus sekolah tidak sedikit yang pada akhirnya memilih menikah saat usia masih menempuh pendidikan tingkat lanjut atau tingkat tinggi.

“Jadi kelahiran anak stunting itu bukan tiba-tiba dan ini yang harus kita upayakan untuk memutusnya. Angka stunting Kota Bogor memang di bawah angka nasional, namun demikian tetap menjadi PR kita bersama. Dari sinilah sebetulnya permasalahan yang kita hadapi terkait stunting, dampak putus sekolah membuat para orang tua mengalami keterbatasan kemampuan ekonomi yang pada akhirnya terjadi perkawinan dibawah usia perkawinan atau pernikahan dini tidak sedikit melahirkan anak-anak yang secara gizi kurang sehat,” paparnya.

Kepala Disdik Kota Bogor, Hanafi menyebutkan, memelihara kesehatan dan pemenuhan gizi semata-mata bukan tugas pokok pemerintah saja, tetapi banyak pihak, mulai dari orang tua, pendidik, masyarakat bersama pemerintah.

Baca Juga  Sidak Tengah Malam, Pemkot Bogor Temukan Jalur Hijau yang Rusak Hingga Miras

“Melalui kegiatan ini para pendidik PAUD diharapkan membuat sesuatu atau keterampilan terkait stimulasi perkembangan anak-anak di usia dini, dari 0 sampai 6 tahun. Berikan layanan yang optimal bagi anak, terutama di 1.000 hari pertama kehidupan,” katanya.

Hanafi menambahkan, kerja sama para orang tua sangat penting untuk mempercepat pencegahan stunting. Sebab, dengan perannya akan mendorong peletakan kecerdasan dasar anak dan stimulasi dalam percepatan penanganan stunting.

Tujuan lain acara ini kata Hanafi adalah untuk meningkatkan kompetensi para guru PAUD dalam memahami dan pencegahan serta penanganan anak yang berpotensi stunting. (*)

Pos terkait