“Ketiga berikanlah anak pengasuhan yang baik, Ayah dan Ibu harus mengasuh anak-anaknya dengan tanggungjawab, lahir batin, dunia dan akhirat. Pengasuhan di keluarga merupakan salah satu faktor pembentuk karakter dan kualitas SDM masa depan. Anak itu amanah yang diberikan kepada kita. Semua anak itu bersih tergantung kita orangtuanya. Termasuk anak bisa stunting atau tidak stunting itu peran orangtuanya, jadi jangan dianggap itu takdir,” ujarnya.
Keempat, terkait pentingnya pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, makanan pendamping ASI selama enam bulan serta konsumsi tablet tambah darah bagi remaja putri, calon pengantin dan Ibu hamil. Kelima, terkait mencegah perkawinan anak dan yang terakhir Wapres berpesan kepada penyuluh agama, Da’i dan Da’iyah untuk menyampaikan dakwahnya dengan ucapan yang santun berdasarkan pendekatan-pendekatan agama yang mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat.
Kepala BKKBN Dokter Hasto menyebut, keberhasilan bagi sebuah negara bisa diukur melalui Human Capital Index, dimana sebuah negara di katakan maju jika masyarakat mempunyai umur yang panjang, sehat dan produktif.
Hal tersebut menurut Dokter Hasto, tentu merupakan target bersama untuk mewujudkan generasi unggul bebas stunting berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo, dimana target prevalensi stunting Indonesia harus di angka 14% pada 2024 mendatang.
Dokter Hasto menyebut stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang dialami oleh anak-anak akibat kekurangan asupan gizi. Dampak yang ditimbulkan akibat stunting yakni tinggi badan yang tidak optimal sehingga badan menjadi lebih pendek, kurang cerdas dan pada usia 40 tahun mudah sakit-sakitan karena metabolisme tubuh yang berbeda.
“Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena kita menghadapi bonus demografi dimana usia-usia produktif harus benar-benar produktif dan berkualitas. Bonus demografi hanya sampai antara 2030-2040 sehingga setelah itu ada aging population, sehingga kalau tidak memanfaatkan generasi yang unggul maka kemudian kita tidak mentransfer bonus demografi menjadi bonus kesejahteraan,” kata Dokter Hasto.
Dokter Hasto pun mengucapkan terima kasih kepada Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas yang telah membantu BKKBN dalam upaya percepatan penurunan stunting nasional melalui bimbingan perkawinan calon pengantin yang dilaksanakan tiga bulan sebelum menikah.
BKKBN, sambung Dokter Hasto, juga terus melakukan kampanye tiga terlalu, yakni jangan menikah terlalu muda, jangan terlalu tua hamil, dan jangan terlalu sering hamil.
Selain itu BKKBN juga memiliki aplikasi Elsimil yakni Elektronik Siap Nikah Siap Hamil yang diperuntukan bagi calon pengantin untuk mempersiapkan kehamilan secara baik demi mencegah lahirnya kasus stunting baru.
Sementara itu Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, acara Halaqoh Nasional Pelibatan Penyuluh Agama, Da’i, dan Da’iyah Untuk Mendukung Percepatan Penurunan Stunting merupakan penjabaran dari perintah agama. Menteri yang akrab disapa Gus Yaqut ini menyebut Islam memerintahkan agar tidak mewariskan generasi yang lemah.
Kemenag sendiri memberikan dukungan penuh kepada BKKBN dalam upaya percepatan penurunan stunting demi terciptanya generasi yang unggul demi kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia di masa depan.








