“Jadi sasaran, target dan capaiannya harus terukur. Rekomendasi yang ada diturunkan ke masing-masing perangkat daerah yang nantinya langsung bertugas fokus kepada inti atau pokok sasaran yang dituju, bisa dengan pendekatan kualitatif atau kuantitatif,” katanya.
Selain sosialisasi pemahaman tentang keluarga hidup sehat dan bersih yang menjadi pokok pengentasan stunting di Kota Bogor dan peningkatan kesehatan masyarakat, diluar itu semua perangkat daerah diimbau untuk mendorong terciptanya lapangan kerja agar masyarakat bisa bekerja dan bisa mengakses kepada seluruh sumber-sumber ekonomi sehingga mampu mendorong usaha pengentasan stunting yang dilakukan.
Hal lain yang ditegaskan Dedie adalah jangan ada lagi anak Kota Bogor yang putus sekolah, karena menurutnya pendidikan adalah modal untuk merubah keluarga. Untuk itu seluruh perangkat daerah hingga aparatur wilayah diminta untuk membantu semaksimal mungkin.
“Putus sekolah bisa mempengaruhi pernikahan dini dan kehidupan pra sejahtera. Pokoknya anak-anak Kota Bogor harus sekolah dan memiliki ijazah sehingga bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau bisa bekerja dengan pendapatan yang lebih baik. Agar tidak ada pernikahan dini, sektor pendidikan yang melibatkan banyak pihak melakukan edukasi dan sosialisasi tujuan-tujuan agar tidak ada kasus-kasus baru stunting yang terjadi, termasuk jika tidak ada rekomendasi pernikahan dibawah usia perkawinan maka jangan diberikan,” paparnya.








