Paijo anak muda berusia kurang dari 30 tahun. Perawakannya pendek dan sedikit berisi. Cara bicaranya sedikit medok karena memang dia berasal dari Tegal, Jawa Tengah. Raut mukanya selalu ramah dan penuh senyum. Dari cara dia melayani pelanggan, tampak jelas jika Paijo orang yang sudah syarat pengalaman. Dugaan saya tidak meleset. Ketika suatu saat berkesempatan untuk ngobrol lama, dia menuturkan kisahnya bagaimana sampai menjadi karyawan di rumah makan Padang itu. Sebelum bekerja di warung Padang itu, Paijo telah melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri.
Pada awalnya, setamat sekolah di Jawa, Paijo merantau ke Kalimantan Barat. Dia ikut dan bekerja dengan kakaknya yang membuka bengkel di Provinsi Khatulistiwa tersebut. Namun dia tidak lama ikut kakaknya, karena penghasilan yang sangat minim. Dia kemudian bekerja di sebuah rumah makan Padang milik perantau Minang di Kota Pontianak.
Setelah beberapa tahun bekerja di rumah makan Padang itu, Paijo mendapatkan tawaran yang menggiurkan dari sebuah agen penyaluran TKI. Dia dijanjikan akan bekerja di luar negeri. Bagi Paijo, tawaran ini tentu sangat menarik. Apalagi dia tidak harus mengeluarkan biaya sepersenpun karena semuanya telah ditanggung oleh perusahaan.
Singkat cerita, Paijopun menerima tawaran tersebut. Bayang-bayang kesuksesan dan uang banyak menari-nari di benaknya. Mungkin, dengan bekerja di luar negeri mimpi-mimpinya untuk hidup lebih sejahtera bisa diwujudkan. Apalagi, dia mendengar banyak TKI yang hidup mapan setelah bekerja di luar negeri.
Paijo akhirnya berangkat ke luar negeri. Negara yang ditujunya adalah Taiwan yang memang jadi tempat ribuan TKI mengadu nasib. Setelah pamit dengan keluarga, dia pun berangkat dengan membawa seribu harapan. Paijo, seperti TKI lainnya mengharapkan, dengan bekerja di luar negeri, kehidupan mereka akan berubah lebih sejahtera.
Di Taiwan, Paijo bekerja sebagai anak buah kapal nelayan. Sebagai salah satu negara dengan industri perikanan yang sangat maju, kapal-kapal nelayan di Taiwan berukuran sangat besar dan dilengkapi dengan alat tangkap yang modern. Sekali melaut, mereka biasanya baru kembali ke darat setelah satu bulan lamanya.








