Paijo menuturkan, selama satu bulan di laut, mereka akan menjelajahi berbagai lautan dan samudra. Seluruh perbekalan selama satu bulan ini akan disiapkan oleh perusahaan. Tidak hanya kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman tetapi juga hiburan untuk awak kapal guna mengusir stres dan kebosanan.
Di kapal, berbagai fasilitas untuk mengusir kebosanan disiapkan oleh perusahaan. Mulai dari sarana olahraga, cafe untuk nongkrong dan ngopi, hingga ruang karoeke bagi yang hobbi menyanyi. Bahkan, tidak cukup sampai di situ, pada setiap pelayaran, ikut serta pula sejumlah wanita yang berprofesi sebagai PSK.
Sambil tersenyum malu, Paijo berkisah, keberadaan PSK ini seringkali membuat anak buah kapal yang sebagian besar berasal dari Indonesia, pulang dengan tangan hampa. Gaji mereka habis untuk membayar tagihan kencan dengan para PSK tersebut. ”Gaji anak buah kapal saat itu hanya sekitar 3,5 juta jika dirupiahkan. Jika mereka terlalu sering kencan atau open bo maka gaji mereka akan habis membayar tagihan,” ujar Paijo seraya menyatakan jika dia termasuk salah satu ABK yang tidak pernah open bo.
Bagi Paijo, satu hal yang membuatnya lebih prihatin adalah tentang negara asal dari para PSK tersebut. Menurutnya, sebagian besar para PSK itu adalah warga negara Indonesia. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa. Usia mereka masih sangat muda, mulai dari belasan tahun hingga 30-an.
Pengalaman Paijo menjadi potret betapa tidak mudahnya para TKI untuk mewujudkan kehidupan keluarga yang lebih sejahtera. Keputusan mereka untuk meninggalkan keluarga dan sanak famili tidak selalu berbuah manis. Mimpi hidup sejahtera yang mereka dambakan justru terkadang berujung tragis. Tidak sedikit TKI yang meninggal di negeri perantaun atau tertular penyakit yang mematikan.
Namun, kisah Paijo berjuang di negeri orang menjadi contoh betapa anak muda Indonesia sejatinya memiliki daya juang yang tangguh untuk mencapai cita-cita dan impian. Demi mewujudkan kehidupan keluarga yang lebih sejahtera, mereka rela pergi merantau ke negeri yang asing. Sayang, perjuangan mereka seringkali diabaikan oleh negara, bahkan oleh keluarga yang mereka perjuangkan itu.
PKB BKKBN dan Pemerhati Sosial








