“Meski saya disabilitas, tapi tetap dari hati saya pengen jadi orang yang bermanfaat gitu, tidak hanya untuk diri sendiri tapi untuk bangsa dan negara gitu,” katanya.
Tantangan dan proses yang dihadapi dalam menjalani serangkaian persyaratan dan tahapan pelaksanaan tes dilaluinya dengan sabar dan tekun. Ia meyakini bahwa setiap kesulitan selalu memiliki solusi untuk menyelesaikan persoalan.
“Antisipasinya dengan cara belajar, berlatih, walaupun saya tidak bisa melihat tapi ya dengan terus belajar dan berlatih pasti bisa, Insya Allah,” ujar Galih.
Ia mengakui mendapat informasi penerimaan CPNS dari media yang kemudian ditindaklanjuti dengan mencari formasi yang menerima peserta kebutuhan khusus. Dengan dibantu temannya, Galih menelusuri daerah yang menerima disabilitas di Jawa Barat, saat itu ia menemukan Kota Bogor menerima peserta dari disabilitas untuk menjadi analis kemasyarakatan di Kecamatan Bogor Selatan.
“Terus saya daftar. Sebelum daftar saya juga sempat nanya apakah disabilitas netra bisa, karena saya pikir analis butuh penglihatan. Ternyata Alhamdulillah Pemerintah Kota Bogor sangat terbuka, saya dipersilahkan untuk daftar. Karena kata Pemkot itu kalau misalkan persyaratan dan tesnya lulus, Pemkot terbuka siapa saja,” ujarnya.








