Ke depan lanjut Ridwan Kamil, ada tiga tantangan yang perlu dicermati bersama untuk bersiap-siap dalam menghadapi disrupsi. Pertama disrupsi pandemi, disrupsi digital dan disrupsi global warming.
Dalam mengatasi pandemi Jawa Barat memperkuat kolaborasi dan gotong royong sehingga bisa melaluinya dengan baik. Dalam disrupsi digital, Ridwan Kamil menyampaikan Kota Bogor sudah berada di depan dan menjadi teladan serta gagasan dalam membangun smart city.
“Di Jawa Barat Disrupsi digital dibagi dua, revolusi digital di internal, revolusi digital di desa di kota di Jawa Barat yang totalnya ada 27 kota/kabupaten dan jumlah desa ada 5.300 kampung atau desa. Di desa-desa kabupaten ada program desa village atau desa digital,” ujarnya.
Capaian lainnya adalah saat ini sudah ada 4.000 generasi muda Jawa Barat yang kembali ke desa dengan modal yang dibantu oleh Pemprov, kemudian pengusaha lokal going global, dan satu pesantren satu produk di 4.200 pondok pesantren.
Selanjutnya capaian yang berhasil diraih Jawa Barat adalah pengentasan 1.000 desa tertinggal desa miskin dan desa termiskin.
Dalam menghadapi global warming Jawa Barat kehilangan sekitar 700 hektare lahan di utara Jawa Barat dari wilayah Bekasi hingga Subang yang awalnya tanah masyarakat berubah menjadi lautan.
“Jadi kesimpulannya, pemanasan global, global warming nyata, krisis lingkungan nyata,” tegasnya.
Oleh karena itu, lanjut Emil sapaannya, dalam lima tahun kebelakang Pemprov Jabar menargetkan menanam 50 juta pohon dan sekarang sudah ditanam melebih target mencapai 77 juta pohon.
Ia juga menitipkan pesan kepada para pejabat dan masyarakat untuk mengurangi global warming untuk menggunakan kendaraan listrik.








