“Ke depan bisa dengan kujang, kemudian arsitektur Sunda, baju tradisi, itu kita butuhkan sehingga dengan adanya buku terkait dengan golok kemudian akan diikuti oleh dengan karya lainnya,” ujarnya.
Sehingga lanjut Dedie, buku-buku ini akan mengisi kekayaan literasi dan perpustakaan di banyak tempat di Indonesia, termasuk di Perpustakaan Kota Bogor.
Penulis Buku Golok Antara Pesona dan legenda, Gatut Susanta mengatakan, buku ini merupakan buku ke 40 yang dibuat oleh dirinya dengan jumlah 180 lembar full colour dengan menggunakan hard cover. Buku ini ditulis kurang lebih dalam kurun waktu 1 tahun.
“Kenapa lama karena buku ini tidak ada literasinya, sehingga harus keliling untuk menulis buku ini. Saya langsung mendatangi tempat yang memiliki informasi itu. Itu yang dilakukan untuk menulis golok, antara pesona dan legenda ini,” ujarnya.
Pada peluncuran buku ini dirinya mencetak 150 buku yang akan disusul dengan pencetakan 3.000 buku.








