Identitas sebagai heritage city juga diperkuat dengan dilaksanakannya beberapa event di Kota Bogor, seperti festival Cap Go Meh, Festival Merah Putih, dan membangun kampung tematik.
“Kami punya kampung Mulyaharja, karena Kota Bogor tidak memiliki banyak lahan hijau, salah satunya yang tersisa hanya di kawasan ini. Ini hasil dari pemberdayaan generasi muda, juga kerja sama antara pemerintah dengan sektor swasta yang menjadikan lokasi ini sebagai kawasan wisata. Upaya kami dalam memperbaiki taraf ekonomi warga lokal salah satunya dengan mempromosikan produk lokal,” katanya.
Dalam mengelola sampah, Kota Bogor sudah sejak lima tahun lalu membuat kebijakan larangan penggunaan kantong belanja plastik. Selanjutnya juga melakukan kolaborasi dengan startup, kalangan milenial dan komunitas kreatif dalam pengolahan limbah, diantaranya dengan membuat vending machine di beberapa tempat.
“Saya percaya bahwa masa depan Kota Bogor sama dengan masa depan kota-kota lain di Indonesia. Kita harus bekerjasama, tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Wali Kota harus bekerjasama dengan banyak pihak seperti komunitas, akademisi atau saya menyebutnya magic of pentahelix. Pentahelix membuat kota menjadi lebih baik. Pentahelix menjadi kunci untuk berbuat lebih baik bagi warga,” ujarnya.
Ketua Program Studi (Prodi) Magister Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) IPB University, Prof Hadi Susilo Arifin mengatakan, kegiatan ini seperti summer school tentang lingkungan berkelanjutan yang secara khusus berbasis local wisdom, diantaranya tentang merangkul warisan budaya; tradisi dan budaya sebagai inspirasi dalam desain lanskap berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan.
Hingga lanjut Hadi output dari kegiatan ini adalah atmosfer dunia internasional yang diwakili oleh para mahasiswa dari berbagai negara dalam mengelola lingkungan berbasis budaya dan kearifan lokal.








