Lewat tengah malam itu, secara demokratis, Hendry Ch Bangun terpilih sebagai Ketua Umum PWI Pusat periode 2023-2028, menggantikan Atal S Depari yang mengalahkannya lima tahun lalu di Solo dengan suara 38-35. Sungguh sebuah drama dan penantian yang panjang. Kerja keras dan dukungan dari pemilik suara fanatik yang hebat, membuahkan hasil. Takdir berada di ujung usaha manusia.
Satu hal penting yang perlu saya garis bawahi. Sejak awal, Hendry Ch Bangun selalu melakukan komunikasi dua arah dengan Zulmansyah. Sejajar tanpa ada yang merasa direndahkan. Di mana saja dan kapan saja. Sejak awal Kongres dibuka, pertemuan keduanya lebih intensif.
Puncaknya, dua jam sebelum sidang pleno pemilihan calon Ketum dimulai, keduanya bersepakat. Putaran pertama, Zulmansyah tetap maju dengan sisa suara yang ada, sembilan. Pada putaran kedua, suara Zulmansyah beralih ke Hendry. Momen kesepakatan dua tokoh itu sempat saya abadikan dalam sebuah foto. Semoga menjadi sejarah, minimal buat mereka berdua.
Akhirnya, Zulmansyah menjalani lakonnya sebagai penentu kemenangan Hendry Ch Bangun untuk menjemput takdir sebagai Ketum PWI Pusat lima tahun ke depan. Mengulangi perannya sebagai penentu kemenangan Atal S Depari lima tahun lalu di Solo. Bedanya, kali ini peran itu ditunjukkannya secara jelas dan tegas. Sepertinya ia ingin mengatakan bahwa anak muda yang dianggap remeh itulah pemain terakhir yang menentukan ke mana kartu jokernya diserahkan.
Proses Panjang
Sejak mendeklarasikan diri maju sebagai calon Ketum PWI di sela-sela Peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2023, Februari di Medan, Zulmansyah sudah menunjukkan keseriusannya.
Dengan tagline Melakukan Perubahan Menuju PWI Hebat, Ketua PWI Riau ini bersafari ke berbagai daerah. Tidak sendiri. Minimal sekali berangkat empat orang. Awalnya, tak ada yang percaya. Ia dituduh sebagai orang Atal untuk menggembosi loyalis Hendry.
Kunjungan pertama adalah Pulau Jawa. Dari Yogya, Solo, Surabaya, dan terakhir Semarang. Lanjut ke Makassar, di mana pertemuan dilakukan dengan empat Ketua PWI Provinsi. Tak ketinggalan, Kantor PWI Jaya juga didatangi. Terakhir ke Pulau Borneo, bersilaturahmi dengan PWI Kalsel dan Kalteng.
Saya, Raja Isyam Azwar (Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Riau), dan Oberlin Marbun (Bendahara PWI Riau) –sesekali Novrizon Burman (Penasihat PWI Riau) ikut– selalu mendampingi Zulmansyah dalam setiap kunjungan. Dari diskusi yang terjadi, mereka menerima Zulmansyah dengan visi misi yang dibawanya.
Kondisinya sungguh berat. Zulmansyah mencoba masuk ke dalam dua kelompok pendukung Atal S Depari dan Hendry Ch Bangun, di mana sebagian besar masih orang yang sama. Sepertinya Kongres XXV Bandung adalah ajang pertarungan ulang, terutama buat loyalis Hendry. Mereka tidak mau kalah dua kali.








