“Pondok pesantren adalah satu-satunya benteng umat Islam. Kalau pondok pesantren ‘jebol’, maka umat Islam akan ‘jebol’. Kalau unggul maka pendidikan di Indonesia akan unggul, kalau santrinya berdaya, Indonesia akan berdaya. Kerja sama yang erat antara pemerintah dengan alim ulama menjadikan kondisi lebih kondusif, aman dan beriman. Pesantren dan pemerintah ibarat orang tua laki dan perempuan. Pejabat adalah bapaknya, alim ulama adalah ibunya,” kata KH Tubagus Asep Zulfiqar.
Wali Kota Bogor, Bima Arya dihadapan pimpinan, pengurus dan para santri serta semua yang hadir menyampaikan pesan dari Menteri Agama. Sejarah Hari Santri berasal dari fatwa dan resolusi jihad bulan Oktober 1945 dari Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari memerintahkan para santri agar pasang badan berdiri di depan melawan penjajah yang mencoba menguasai Indonesia.
“Kalau tema Hari Santri tahun ini adalah jihad santri untuk negeri, maka jihad saat ini dimaknai dengan lebih luas, lebih bijak, lebih update dan kekinian serta lebih canggih. Jihad bukan semata perjuangan fisik. Hari ini mari kita maknai jihad secara intelektual, moral dan secara sosial,” kata Bima Arya.
Membaca, menambah ilmu, bagaimana mengurusi sampah, mengatasi polusi, kemacetan, kebodohan, kesenjangan ekonomi dan mengatasi setiap persoalan yang mengancam potensi hidup manusia merupakan bagian dari jihad intelektual, jihad moral dan jihad sosial. Ada lagi jihad konstitusional dengan menaati setiap aturan dan peraturan yang ada di Republik Indonesia untuk memberikan kemaslahatan.








