Smart Economy, persentase masyarakat miskin mengalami penurunan 7,21 (2022), IPM naik menjadi 77,17 persen (2023), indikator-indikator smart living diantaranya persentase stunting anak usia dibawah dua tahun mengalami kenaikan berat badan sebesar 83,08 persen (2023), target balita imunisasi lengkap kurang lebih 80 persen, cakupan persalinan ditangani nakes sudah mencapai 96,1 persen (2022).
Berkaitan air minum layak terdapat 282 sarana air minum aman, akses sanitasi layak sekitar 76,3 persen atau 138.463 kk terakses, jalan masyarakat mencapai 92,62 persen. Smart Society dilihat dari pendidikan angka partisipasi murni, untuk SD/MI sederajat sebesar 99,95 persen, SMP sebesar 74,75 persen dan SMA sederajat sebesar 80,82 persen.
Untuk Smart Environment berupa inovasi dalam pembatasan sampah. Sejak tahun 2017 Kota Bogor telah mengeluarkan kebijakan tidak hanya untuk retail modern, namun juga pasar tradisional. Daur ulang sampah tidak luput dengan melibatkan masyarakat maupun komunitas untuk memilah yang dijadikan produk yang berguna.
Selain itu disebutkan melalui inovasi berupa aplikasi-aplikasi, diantaranya Asinan Bogor, Pakuan Prima untuk melayani administrasi kependudukan berkolaborasi dengan pihak lain. Si Badra sebagai implementasi Smart Governance dalam memberikan layanan dan respon aduan warga yang dievaluasi secara kontinyu.
Selanjutnya Smart Branding dalam PDRB Kota Bogor di sektor sekunder dan tersier dengan branding tempat atau kampung tematik, local pride, outlet 100 persen untuk kuliner, Bogor Kerja dari Dinas Tenaga Kerja.








