Mahasiswa se-Nusantara Belajar Keberagaman Ke Kota Bogor

Mahasiswa

“Saat saya kecil Bogor itu jumlah penduduknya sekitar 400 ribu penduduk, kemudian ketika saya kuliah itu bertambah 700 ribu dan hari ini penduduk Kota Bogor 1,1 juta,” katanya.

Saat ini Kota Bogor bukan hanya dihuni oleh orang-orang ‘senior’ Bogor, tapi juga para pendatang dari wilayah Jabodetabek dan sekitarnya serta dari luar pulau Jawa.

Sehingga kota yang luasnya tidak bertambah ini memiliki kepadatan yang cukup padat seiring meningkatnya jumlah penduduk.

“Jadi luasnya tetep, orangnya menambah, kepentingannya nambah. Kalau nggak dilayani semua dengan adil, maka akan terjadi persoalan-persoalan. Disitulah saya bilang enggak mudah membangun manusia, orang dengan latar belakang yang berbeda beda,” jelasnya.

Baca Juga  Dedie Rachim Menerima Kunjungan 33 Mahasiswa IIUM ke Kota Bogor

Selanjutnya Bima Arya juga memaparkan terkait penyelesaian-permasalahan gereja Yasmin yang saat itu membuat Kota Bogor dicap sebagai kota intoleran.

“Saya gak terima, karena Bogor itu DNA-nya DNA yang cinta keberagaman dari masa ke masa. Ada vihara, ada gereja, ada masjid di pusat kota dan semua berdampingan terus,” katanya.

Sebagai wali kota, Bima Arya pun berhati-hati dan mencari akar permasalahannya yang kemudian dilakukan berbagai dialog dan diskusi dengan membuka semua opsi penyelesaian, hingga akhirnya persoalan gereja Yasmin selesai dengan dihibahkannya lahan dari Pemerintah Kota (Pemkot) untuk membangun gereja.

Pos terkait