Latar Belakang Munculnya Bumi Parawira
Keberadaan Bumi Parawira ini inisiasi oleh Wali Kota Bogor, Bima Arya yang menyampaikan bahwa perlu ada sebuah galeri yang menampilkan Kota Bogor dari masa ke masa untuk mengedukasi masyarakat terhadap sejarah.
Nama Bumi Parawira dipilih setelah melalui hasil riset terlebih dahulu.
Kepala Diarpus Kota Bogor, Rudiyana mengatakan Bumi Pariwara ini memiliki arti rumah para pemimpin yang diambil dari bahasa sansekerta.
“Ini bercerita tentang Kota Bogor yang banyak melahirkan pemimpin. Mulai dari Prabu Siliwangi, Presiden Soekarno dan sampai Jokowi. Dan ada juga wali kota dari masa ke masa dan itu semua mereka terkait dengan Kota Bogor,” katanya.
Galeri Bumi Parawira membuat pengunjung seperti melewati lorong waktu dari masa kerajaan hingga saat ini.
Konten yang terdapat pada Galeri Bumi Parawira ini menonjolkan lukisan-lukisan yang digambar oleh para pelukis yang dilalui hasil riset terlebih dahulu oleh tim riset yang kemudian divisualisasi ke dalam bentuk lukisan.
Pada fase Kerajaan Pajajaran ditampilkan peristiwa-peristiwa penting di masa itu, seperti penobatan Sri Baduga Maharaja yang akhirnya menjadi Hari Jadi Bogor, adegan Prabu Siliwangi rapat di Paseban Sri Bima, perjanjian Kerajaan Sunda dan Portugal. Selain itu akan dihadirkan pula diorama pasukan Prabu Siliwangi dan berbagai lukisan lain hingga era runtuhnya Kerajaan Pajajaran.
Selain itu juga ada diorama dan lukisan penemuan Prasasti Batutulis, desain Istana Bogor, pembangunan jalan Pos Daendels, pembagian zona Kota Bogor dan dihadirkan pula lukisan yang bercerita tentang tokoh Raden Saleh, Tirto Adhi Soerjo dan Keluarga Tan.
Dalam Galeri itu juga ditampilkan lukisan Bung Karno yang pernah berpidato di Lapangan Sempur, pengibaran bendera merah putih pertama di Gedung Bakorwil (saat ini Bogor Creative Center), peristiwa gugurnya Kapten Muslihat yang tengah digendong adiknya di Jembatan Merah, tokoh aktivis Soe Hok Gie, arsitek Masjid Istiqlal FX Silaban.
Galeri Bumi Parawira menghadirkan diorama pembangunan Tugu Kujang yang menggunakan helikopter, naskah legendaris Bung Karno yang bertuliskan ‘moga-moga Bogor jadi batu loncatan sejarah’, dan instalasi kendaraan Bemo.
Selain itu juga ditampilkan deretan program gemilang wali kota-wali kota terdahulu hingga saat ini, seperti pencapaian Piala Suratin dan Adipura pertama, kesuksesan perluasan transportasi, penyelesaian GKI Yasmin, hingga cikal bakal Sistem Informasi Berbagi Aduan dan Saran (Si Badra).
Galeri ini juga merekam fenomena pandemi Covid-19.
Dengan adanya Galeri ini kata Rudiyana, masyarakat bisa belajar mengenai sejarah ataupun kepustakaan melalui sumber yang akurat.








