“Menjaga agar Kota Bogor tetap di tengah ini sebenarnya meneruskan DNA Kota Bogor dari masa zaman kerajaan Pajajaran. Ada DNA keberagamaan di sana dan menjaga Kota Bogor tetap toleran bukan hanya dari indeks saja,” jelasnya.
Ia menegaskan, ada lima hal yang harus diterapkan untuk menjaga Kota Bogor sebagai kota toleran. Pertama, adanya konsisten leadership. Ia berharap wali kota dan ketua DPRD selanjutnya akan terus mewarisi DNA Kota Bogor dari masa ke masa. Kedua dari institusi. Keberagaman ini harus dikawal lembaga yang memiliki konsistensi dan legitimasi, salah satunya FKUB yang harus diisi tokoh-tokoh dengan kejernihan hati.
“Ketiga regulasi, Perwali dan Perdanya tidak boleh bertentangan dengan semangat tadi. Keempat, kolaborasi karena kita tidak bisa sendiri, urusan toleransi bisa dikolaborasi bersama-sama untuk menguatkan pemahaman tadi. Kelima inspirasi, harus ada inspirasi dari kota ini kalau toleransi itu hal mulia,” katanya. (*)








