Prof. Ardiansyah: Bekatul sebagai Pilar Pangan Fungsional

Bekatul

’’Teknologi stabilisasi menjadi sebuah hal yang sangat penting untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing bekatul. Stabilisasi bekatul menggunakan SSCE dengan kecepatan ulir 15 Hz pada suhu 120 οC dapat menurunkan kadar asam lemak bebas hingga di bawah 10% diiringi dengan minimalnya kerusakan α-tokoferol dan γ-orizanol. Penggunaan metode tersebut dapat dengan mudah untuk diaplikasikan untuk industri bekatul, karena memungkinkan untuk dilakukan dalam skala kecil atau besar secara kontinyu dengan biaya yang terjangkau.’’papar Prof Ardy.

Lebih lanjut Prof Ardy menyampaikan beberapa industri kecil dan menengah (IKM) telah mengembangkan bekatul dengan teknologi penyangrai seperti, Kelompok Tani Kesiman Jaya, Desa Kesiman Jaya Pasuruan, IKM Kosmetik Arjuna Yogyakarta, dan penggilingan padi di Banyuwangi.

Baca Juga  Kolaborasi Tekan Inflasi Kota Bogor

’’Tentu banyak hal yang harus disiapkan agar menarik minat masyarakat dalam mengonsumsi bekatul, diantaranya kesiapan bahan baku, kesiapan industri bekatul, hilirisasi, sosialisasi pada konsumen dan tentunya strategi pemasaran serta branding,’’tegasnya.

Prof Ardy mengatakan banyak hal yang harus disiapkan agar menarik minat masyarakat dalam mengonsumsi bekatul, diantaranya kesiapan bahan baku, kesiapan industri bekatul, hilirisasi, sosialisasi pada konsumen dan tentunya strategi pemasaran serta branding.

’’Menonjolkan manfaat kesehatan dari bekatul, bisa menjadi pemacu dan pemicu cukup tinggi, untuk bisa menjadi pilihan konsumen. Sebuah pemetaan dapat dibuat untuk memberikan informasi mengenai manfaat bekatul dari berbagai jenis beras dengan target kesehatan yang spesifik. Positioning dalam strategi pengenalan bekatul sebagai pangan fungsional dan nutrasetikal akan lebih jelas dan membantu konsumen dalam memilih jenis bekatul untuk dikonsumsi sesuai kebutuhannya,’’kata Prof Ardy diakhir orasinya.

Baca Juga  Kelurahan Tajur Deklarasikan Zero New Stunting dan ODF

Pengukuhan Prof Ardy sebagai Guru Besar mendapat sambutan banyak pihak. Orasi ilmiah ini dihadiri oleh berbagai kalangan, terutama para ahli pangan, akademisi, praktisi industri pangan, para professional di bidang pangan dan berbagai lembaga yang terkait pangan, seperti AIPG-AIPI, BPOM, GAPMMI, BAPANAS, BAPPENAS, PATPI, P3FNI, PERGIZI, BSN, BRIN, dan lainnya.

Pos terkait