Bima Arya menegaskan, yang harus terus dilatih bukan hanya hard skill tapi juga soft skill. 10 tahun menjadi wali kota ia mempunyai pengalaman berharga mengasah soft skill mediasi. Mulai dari berhadapan dengan PKL, sopir angkot, ormas, komunitas, RT RW, marbot dan lain sebagainya, yang mana ini membutuhkan soft skill luar biasa karena bukan hanya memahami secara ideologi, tapi juga menjalankan komunikasi dengan efektif.
“Beberapa hari pelatihan tentu saja tidak cukup karena perlu long life learning dan praktik. Jadi harus selalu terjun langsung untuk mengasah itu. Tapi juga tidak bisa sporadis membantu dadakan, semuanya harus dikondisikan. Sehingga mediator bisa masuk dan mempraktikan dengan cara yang juga diatur bukan hanya inisiatif pribadi alias ada lembaganya,” terangnya.
Di tempat yang sama, Ketua FKUB Kota Bogor, Hasbulloh mengatakan, pelatihan dan ujian mediator bersertifikat ini merupakan inisiasi dari FKUB Kota Bogor. Hal ini dilakukan karena banyak konflik yang terjadi sebenarnya bisa diselesaikan dengan mediasi alias tidak perlu melalui jalur hukum.








