Baru 20% Jadi Sekolah Penggerak, Kepala BBPMP Jabar Dorong Pengimbasan ke Sekolah Sekitar

Sekolah

“Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat berharap PSP mampu memperkuat pendidikan di Jawa Barat. Karena itu, Pemdaprov Jabar dalam pelaksanaan PPDB 2024 kita mulai dengan tidak ada titipan, tidak ada rekomendasi, tidak ada transaksi. Ini bentuk komitmen Pemdaprov Jabar untuk mewujudkan pendidikan berkualitas yang diawali dengan PPDB yang jujur,” ungkap Ade.

Ade mengaku sedih dengan pelaksanaan PPDB yang baru saja usai. Kesedihan Ade dating karena sampai saat ini pihaknya masih mendapat intimidasi dan tekanan dari sejumlah pihak. Masih ada orang tua yang ngotot agar anaknya diterima di sekolah negeri.

“Dalam Forum Pemangku Kepentingan ini, dalam PPDB jujur, itu adalah awal membangun sekolah di Jabar menjadi mulia. Semua bisa menerima apa yang sudah menjadi takdir. Tidak sedikit yang tidak menerima diterima negeri. Bagaimana dengan swasta, ada tidak mau sekolah di swasta. Karena itu, melalui PSP harapannya semua sekolah di Jabar adalah PSP. Dengan demikian, tidak ada lagi sekolah unggulan dan bukan unggulan, sehingga dalam PPDB tidak ada lagi dikotomi sekolah pengerak dan bukan penggerak,” tambah Ade.

Baca Juga  Jawa Barat Terapkan Pemantauan Dana Desa Real-Time, Dedie Rachim Apresiasi Langkah Kejaksaan RI

Sementara itu, Widyaprada Ahli Utama Jayeng Baskoro yang menjadi person in charge (PIC) PSP Kemendikbudristek menjelaskan, PSP tidak muncul begitu saja. PSP hadir atas keresahan dengan kualitas pendidikan. Terutama selama masa pandemi Covid-19. PSP merupakan upaya mengejar ketertinggalan pendidikan di Indonesia.

“Sebelum Covid-19 pun kualitas perlu ditingkatkan. Dan, (kualitas pendidikan) makin turun ketika Covid-19. Maka, salah satu strategi adalah menyelengarakan PSP. PSP fokus kita pada sekolah. Difokuskan lagi pada kapasitas kepala sekokah, guru, dan pengawas. Tiga hal ini yang mengawal layanan kualitas pembelajaran kita,” papar Jayeng.

“Pemerintah pusat tentu tidak mampu untuk meningkatkan kapasitas KS, guru, dan pengawas sendirian. Sampai saat ini pun laporan dari seluruh Indonesia masih memiliki kekurangan. Salah satu unggulan PSP adalah menjadikan GP sebagai kepala sekolah. Mereka sudah dilatih, diberikan pendampingan. Dengan adanya kualitas guru dan tendik, diharapkan ada transformasi. Tidak mudah. Ini memerlukan dukungan semua,” Jayeng menambahkan.(NJP)

Pos terkait