Kedua adalah kesiapan TPS. Di Kota Bogor, akan ada sekitar 1.530 TPS yang tersebar di enam kecamatan. Hery ingin seluruh TPS tersebut berdiri di lokasi yang strategis, mudah diakses, dan memadai untuk jumlah pemilih di wilayah tersebut.
“Saya mohon laporan dari KPU dan para camat. Mohon disampaikan mitigasi dan rencana kontingensi untuk TPS yang terkategori rawan bencana mengingat hari pemilihan diperkirakan merupakan puncak musim hujan. Terus berkoordinasi dengan BPBD,” urai Hery.
Pada poin ketiga, Hery menekankan pentingnya kesiapan Petugas Pemungutan Suara (PPS), terutama untuk rutin mengadakan pelatihan atau Bimtek agar pada saat pemungutan maupun penghitungan suara dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Keempat, adalah sosialisasi dan pendidikan pemilih. Pelaksanaan sosialisasi bertujuan untuk meningkatkan partisipasi pemilih, menginformasikan jadwal pemilihan, lokasi TPS, serta memberikan edukasi tentang cara memberikan suara yang sah dan pentingnya berpartisipasi dalam pilkada.
“Untuk itu, KPU, Diskominfo, dan camat harus melakukan upaya sosialisasi yang masif dan menjangkau semua segmen pemilih agar mereka menggunakan hak suaranya pada tanggal 27 November. Terutama dengan cara yang efektif dan inovatif untuk meningkatkan partisipasi dalam pilkada ini,” kata Hery.
Selanjutnya, poin kelima adalah kesiapan sistem penghitungan suara. Hery meminta memastikan bahwa sistem penghitungan suara (baik manual maupun digital) siap dan andal, sehingga hasil pemilu dapat dihitung dan dilaporkan dengan akurat.
“Beberapa hal tersebut mungkin bisa disampaikan nanti oleh Ketua KPU Kota Bogor terkait sejauh mana persiapannya, langkah apa yang sudah ditempuh untuk memastikan proses penghitungan tidak bermasalah seperti pada Pemilu Legislatif yang lalu,” jelas Hery.








