“Marketing sangat penting dalam divisi perhumasan. Selain itu, kinerja marketing perlu ditopang dengan penguasaan teknologi 5.0,” tandas Ahmad Zaki.
Pendapat Ahmad Zaki ini sejalan dengan pengalaman Pitoyo selama mengmbangkan jejaring media di bawah kelompok Kompas Gramedia, Tribun Network. Pitoyo secara lebih khusus menyoroti aspek strategis pemanaatan AI. Khususnya bagi kalangan generasi Z atau Gen Z yang dianggapnya lebih akrab dengan teknologi.
“Gen Z lebih akrab dengan AI. Tribun Network berada di 35 provinsi di Indonesia. Di sanalah saya mengandalkan Gen Z. Mereka tidak lepas dari ponsel, baik mata maupun tangan. Mereka ke mana-mana bawa hape. Ketika kita menerapkan pekerjaan work from home dan sekarang work from anywhere, mereka jauh produktif karena mereka bekerja dengan hape,” ungkap Pitoyo.
Pitoyo yang memulai karir sebagai wartawan pada 1990 silam menilai AI memiliki peran penting dalam mempromosikan perguruan tinggi. Big data yang diolah melalui AI akan menghasilkan data sesuai dengan kebutuhan perguruan tinggi dalam membidik calon mahasiswa. Nah, humas dan marketing membutuhkan penguasaan teknologi informasi untuk optimalisasi fungsi AI tersebut.
Dia mencontohkan, ketika UPI ingin mendeteksi profil calon mahasiswa sesuai dengan target demografis atau kecocokan dengan program studi, maka AI akan memberikan data tersebut. Humas atau tim marketing bisa bertanya kepada Chat GPT atau Gemini maupun mesin aplikasi AI lainnya.
Meski begitu, Pitoyo mengingatkan agar humas dan marketing melakukan verifikasi data yang diberikan aplikasi. Alasannya, big data pada umumnya menggunakan data yang bersumber dari percakapan maya, baik media sosial maupun platform lainnya. Tanpa verifikasi, bukan tidak mungkin data yang diberikan merupakan data salah yang kemudian berkonsekuensi pada pengambilan keputusan yang salah.








